Tidak Perlu Menunggu Kaya

Kemiskinan merupakan hal yang sangat akrab dalam masyarakat Indonesia sebagai negara berkembang, dan negara-negara miskin di belahan dunia lain. Ditengah kemajuan jaman yang begitu pesat, kemiskinan melahirkan sebuah fakta yang sulit kita bantah kebenarannya. Saat ini banyak sekali saudara-saudara kita yang terpaksa memakan nasi aking daripada tidak makan sama sekali. Bahkan ketika persediaan makanan yang hanya layak dimakan oleh burung itu pun habis, mereka tidak bisa membantah kematian yang memang sudah di depan mata.


Ironisnya, banyak para pejabat yang pura-pura tidak mendengar. Mereka justru sibuk mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan study banding keluar negeri, ketimbang mengunjungi dan memberi solusi-solusi di negerinya sendiri. Banyak sekali pertanyaan terhadap hal tersebut. Pertanyaan kenapa sepertinya kita sudah tidak punya hati nurani mungkin sering kita rasakan ketika kita melihat di televisi para orang tua yang bingung mendengar anak-anaknya menangis kelaparan, melihat betapa menderitanya mereka ditengah-tengah para pejabat yang begitu haus kekuasaan.
Seiring dengan pola kehidupan dan gaya hidup konsumtif, hedonis, dan materialistis yang melanda masyarakat kita sekarang, diakui atau tidak membuat nilai prespektif kita terhadap kemanusiaan menurun. Terlalu sibuk dengan segala hal yang berbau duniawi telah membuat kita lupa akan sesama. Menolong sesama dirasa terlalu merepotkan karena akan merembet berurusan dengan yang lainnya. Padahal, di mata dunia, negara kita terkenal dengan gotong- ryong dan tolong- menolong antar sesama yang dapat menciptakan kesejahteraan di semua kalangan. Tentu saja ini sesuai pula dengan butir ketiga dari ideologi negara ini.

Tetapi, sepertinya menolong seorang pun jarang kita lakukan sekarang ini. Jutaan saudara kita yang masih bergelut dengan lumpur kemiskinan, kelaparan, dan keterbelakangan, luput dari perhatian. Fenomena tersebut jelas mengingkari makna kesetiakawanan sosial yang telah dibangun para pendiri negeri  kita, mengotori kesucian darah jutaan rakyat yang telah menjadi korban bagi terciptanya negeri ini.
Tidak malu kah kita terhadap warga-warga Gaza yang masih mau menolong masyarakat yang terkena bencana kelaparan di Somalia? Tidak tergerak kah hati kita ketika seorang anak umur 8 tahun menyumbangkan uang tabungannya sebesar  30 Shakel ($ 8) kepada anak-anak di Somalia? Padahal uang itu ia tabung untuk membeli baju lebaran. Penderitaan yang menimpa rakyat Gaza, mulai dari isolasi dari segala arah, kondisi tegang pasca perang, langkanya bahan makanan, air bersih, BBM, dan listrik, tidak lantas menjadikan mereka tidak peduli dengan urusan sesama saudaranya.

Tidak perlu menunggu sejahtera untuk setidaknya membantu sesama. Tidak perlu menunggu menjadi seorang yang kaya. Contoh-contoh tadi merupakan gambaran bahwa dalam kondisi apa pun, kita harus berusaha menolong saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan. Tidak perlu jauh-jauh, tapi lihatlah di sekeliling kita. Masi banyak orang- orang yang membutuhkan bantuan kita.





(saya menulis ini untuk tugas Teknik Komunikasi dan dikumpulkan esok hari senin jan 14.30)    

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible