HALLO.STRANGER

1:42 PM

cerita ini diambil dari Antologi Karena Kita Tidak Kenal oleh Farida Susanty,
dengan beberapa perubahan.

Suatu hari, di sebuah tempat, ya, tempat merupakan keterangan penting disini.

Pada suatu hari di sebuah jalan, seorang lelaki, orang asing #1 mengemudikan mobilnya, menuju, entahlah. Dia hanya berkendara tanpa tujuan. Kepalanya penat, butuh kesegaran. Seolah-olah lebah mengerubuni kepalanya.

Hari itu sabtu sore, dan kota diguyur hujan cukup lebat. Kaca depan mobil lelaki itu tampak buram, berembun.

Bahkan dalam keadaan penglihatan seperti itu, entah bagaimana matanya menangkap sebuah sosok. Ia tidak yakin dengan penglihatanya, apakah hanya imajinasi, atau memang nyata. Yang jelas, Ia melihat seorang gadis, orang asing #2, sedang duduk di trotoar jalan di tengah hujan lebat. Gadis berambut sebahu, dengan kaus merah, dan celana jeans berwarna indigo, duduk dengan dengan mata menatap lurus keedepan, dan tenang.

Laki-laki itu menyipitkan matanya. Itu pemandangan paling ganjil yang pernah aku lihat. Seorang gadis, duduk di tepi trotoar, di tengah hujan, tanpa berusaha mencari tempat berteduh. Apa yang gadis itu lakukan?

Ia, laki-laki itu bukan orang yang spontan. Tapi, entah kenapa, rasanya ia tertarik untuk berhenti dan menemui si gadis itu. Dan, akhirnya, ia mengikuti insting dan menepikan mobilnya.

Begitulah mereka, kedua orang asing itu, bertemu.

Laki-laki itu membuka kaca mobilnya, dan memanggil gadis itu.
“Hey, kamu,” katanya. “Masuk sini.”

Gadis itu diam. Memandang bingung. Mencoba menganalisis laki-laki dalam mobil yang berhenti di depannya itu. Berambut lurus, agak gondrong. Wajah bersih, mata tenang. Seperti orang terpelajar, tetapi eksentrik. Terlihat dari sedan tahun 80’annya. Ya, di kota sebesar ini, sudah jarang orang, apalagi seumuran lelaki itu yang masih mau mengendarai mobil dibawah keluaran tahun 2000’an. “Mau apa kamu?” Tanya gadis itu serak. Tampaknya dia sudah terlalu lama diguyur hujan, dan mulai pilek.

“Aku anterin kamu ke tempat tujuan kamu. Yang penting masuk aja dulu, jangan ujan-ujannan gitu.” Kata laki-laki itu lagi. Dia menunjuk ke belakang, “Jok belakang aku rusak, dan banyak barang. Aku gak akan ngapa-ngapain kamu. Aku gak punya catatan kriminal, atau rumah sakit jiwa. Terus, kalau kamu duduk terus di situ, bakal lebih banyak mobil yang berhenti, nawarin kamu masuk. Ada kemungkinan nih, dari banyak mobil itu beberapa ada yang penjahat kelamin, pemerkosa, atau penjual ginjal.” Ia mencoba beralasan.

Gadis itu tertawa. Laki-laki itu menarik juga, walaupun sebenarnya ia cukup takut.

Gadis itu, juga bukan orang yang spontan terhadap sesuatu. Tapi entah kenapa dia tertarik untuk bangkit dari trotoar. Setelah sedikit banyak mempertimbangkan ini itu, ia akhirnya mengikuti instingnya dan masuk ke dalam mobil.

“Take me out tonight…Where there’s music and there’s people, and they’re young and alive…”
~The Smiths- There Is a Light That Will Never Goes Out

Dengan baju yang berkecipak, ia mendudukan dirinya ke dalam mobil itu. Segera aroma pewangi mobil beraroma bugenville menyerbu hidungnya. Musik menggema di dalam mobil itu cukup kencang. Ia menatap laki-laki itu tersenyum dan menyipitkan matanya. Laki-laki itu menutup kembali kaca jendelanya dan menatap si gadis.

“Kenapa?” Ia mempertanyakan tatapan si gadis.

Gadi itu menggeleng sambil tertawa. “Tidak.” Hanya saja, bugenville? The Smiths?” Gadis itu tertawa lagi sambil menunjuk pewangi mobil dan tape yang menggaungkan lagu There Is a Light That Will Never Gous Out.

Laki-laki itu juga tertawa. “Aneh ya?”

Gadis itu hanya menggeleng dan dan duduk menyender.

“Kedinginan?” Tanya laki-laki itu. Tanpa menunggu jawaban si gadis, laki-laki itu membawa sweater hitam dari jok belakangnya. “Pake aja”

Gadis itu mengangguk dan memakainya.

Laki-laki itu menginjak kopling dan gas mobilnya. Mobil mulai maju lagi. Ia berdehem. “Jadi, ngapain kamu diem di situ?” Tanya si laki-laki.

Gadis itu tertawa. Serak. “Gak tahu.”

“Nunggu orang ya? Pacar kamu? Tega banget.”

Tawa gadis itu makin keras. “Bukan.”

“Pelanggan? Orang asing? Lagi mangkal?” Tanya laki-laki itu tidak percaya. “Eh, seriusan? Buat apa?”
“Hmm…Nggak tahu.” Gadis itu melebarkan matanya yang, ketika laki-laki itu perhatikan cukup menarik. Mata yang cuek, atraktif, dan playful.

“Dan, kamu mau ke…?” Laki-laki itu mencondongkan tubuhnya.

“Nggak tahu,” jawab gadis itu cepat.

Kini laki-laki itu tidak bisa tidak serius. “Yang bener dong.”

“Hmm…Entahlah. Just take me out tonight…Where there’s music and there’s people, and they’re young and alive…” Gadis itu bernyanyi mengikuti musik yang menggema. Laki-laki itu tertawa. “Bawa aku ke tempat yang seru aja. Kamu sendiri mau kemana?” Tanya gadis itu. “Ah, malam minggu gini, mau nyamperin cewek kamu ya?” Gadis itu terkekeh.

Laki-laki itu berpaling sebentar dari jalan, dan mereka saling menatap.

“Haha. Nggak, aku..uh, gak punya pacar. Dan aku mau…” Dia sendiri kan sebenarnya tidak tahu mau kemana. Tapi akhirnya ia mengarang. “Aku mau ke bisokop,” katanya.

“Nah, kalau gitu, aku ikut aja ke bioskop,” Gadis itu memalingkan wajahnya keluar jendela, tanda dia membubuhkan tanda titik di kalimatnya dan tidak mau mebicarakan itu. Karena sikapnya itu, si laki-laki terkekeh lagi. Keberadaan gadis aneh ini mulai menghiburnya.

“Hey, nyantai amat ngomongnya. Emang aku iyain kamu boleh ikut?” kata si laki-laki terggelak. Gadis itu membalik dan memutar mata. “tapi, yah…tapi karena kamu juga inisiatif mau pergi bareng aku, dan membuka kesempatan selebar-lebarnya buat aku untuk ngapa-ngapain kamu, ya, aku iyain aja deh, Tapi, aku yang milih film dan ga boleh minta popcorn,” ujar si laki-laki.

Gadis itu tertawa keras “Kamu nyenengin ya. Kocak,” ucapnya.

“Gak perlu nyalahin aku, udah bawaan lahir itu,” kata laki-laki itu, tanpa membalikkan wajahnya ke arah si gadis. Si gadis tertawa dan menggeleng tidak percaya. “Kamu juga punya bawaan lahir yang bagus. Kamu cantik.”

Pipi gadis itu sedikit memerah, gengsi bangga dipuji oleh orang asing. Ia sedikit tersenyum sebelum akhirnya menggeleng. Ia tidak boleh begitu. Ayo main-main saja dengan orang asing ini.

“Ak—“

Gadis itu mau bicara ketika si laki-laki memotong lagi. “Nggak usah ngerasa perjalanan ini meaningful, meaningless juga gak apa-apa, yang penting nih, kamu tuh gak duduk di pinggir trotoar gajelas kayak tadi. Kita seneng-seneng aja.” katanya.

Gadis itu tahu, dia berusaha keras tidak tertawa kali ini.

“Ah, lagu Hit the Road Jack,” kata si gadis memecah kesunyian yang canggung yang sempat tercipta diantara mereka. “Hit the Road Jack, and don’t you come back no more, no more, no more…”

Woah women, oh women, don’t treat me so mean, you’re the meanest old women that I’ve ever seen,” Gadis itu ikut bernyanyi, dan anehnya, laki-laki itu juga menyanyikan bait yang sama, pada yang waktu yang berbarengan.

Mereka berdua akhirnya tertawa.

“Wow, selain The Smiths, kamu dengerin Ray Charles juga? Sulit dipercaya.” Laki-laki itu tertawa.

Emang aneh?” Gadis itu tertawa.

“Di zaman yang isinya Lady Gaga dan Justin Bieber, kamu masih tahu Ray Charles? God!” Laki-laki itu menepuk setirnya. “Sekalian aja kamu juga seneng masak dan lucu. Aku bisa jatuh cinta sama kamu dalam waktu sedetik deh. Tipe aku banget.” Laki-laki itu antusias dan akhirnya tertawa.

Gadis itu memutar mata. Ya, aku bisa masak, pikirnya bingung.

“Ray Charles keren. Banyak lagu-lagu nya yang sebenernya sedih, tapi karena dinyanyiin dengan riang dan indah, jadi enak aja,” kata si gadis. “Sedih kan bisa diubah jadi hal indah, kayak The Smiths. Lagunya sedih-sedih, tapi indah.”

“Kayak tadi?” Si gadis menatap laki-laki itu, mengerutkan dahi tadi-yang-mana nya. “Duduk di tengah hujan juga kesedihan yang indah, ya?”

Kini gadis itu tidak menjawab. Laki-laki itu memandangnya sekilas.

“Mau dikasih tahu satu rahasia? Aku sebenarnya memang lagi kalut dan entah kenapa lihat kamu di pinggir jalan jadi seneng aja,” ujar si laki-laki.

Si gadis tercenung sebentar, mencoba mengabaikan sinyal hangat yang dikirimkan si laki-laki. Ia kemudian mengangkat bahu.

“Ya ampun.” Si gadis tertawa. “Ayolah, kita ini orang asing, nggak kenal satu sama lain. Jangan kayak putrid-putri Disney yang jatuh cinta pada pandangan pertama deh,” kata si gadis.

“Ya Tuhan, dan kamu bahkan baru menunjukkan kalau kamu itu lucu. Mungkin gak sih kalau kita memang ditakdirkan untuk ketemu di jalan barusan untuk kemudian hidup berbahagia selamanya?” Laki-laki itu memandangnya serius.

Gadis itu tidak tahu apa laki-laki itu benar-benar serius dengan ucapannya. Memang, pipinya kembali memerah, tapi, ya, dia juga ingin bersikap biasa saja. Ia melanjutkan lagi nyanyiannya, dan mereka bernyanyi lagu There Is a Light That Will Never Goes Out lagi, juga lagu-lagu lain yang ada di dalam kaset tape.

Menyanyi bersama orang asing tidak terlalu buruk ternyata, pikirnya. Sebelum akhirnya monil tiba-tiba berhenti.

“Let the good times roll, I don’t care you’re young or old. You oughtta get together and let the goot times roll.”
~Ray Charles- Let the Good Times Roll

“Anjrit mogok!” Laki-laki itu turun dari mobil di tengah hujan yang mulai reda, menyisakan gerimis, dan membuka kap mobilnya. Si gadis melongok dari jendelanya. “Tenang, tenang. Emang suka gini.” Si laki-laki pun tenggelam dalam kap.

Gadis itu menekuk kakinya dan memeluknya, menunggu. Sepuluh menit kemudian, laki-laki itu masuk ke mobil dengan cengiran lebar.

“Ehm. Mobilnya harus di dorong dulu sebelum jalan,” katanya.

Gadis itu melebarkan mata tidak percaya. “MASA AKU YANG DORONG?”

“Aku juga pengennya kamu pegang stir sama gas. Aku yang dorong dari belakang. Gimana?” kata si laki-laki itu. Gadis itu ingin berteriak, tapi akhirnya dia turun juga.

“Aku dorong aja.”

Si laki-laki itu tadinya tidak yakin si gadis bisa melakukannya. Tapi, ketika dengan asal-asalan dia menginjak gas, mobil itu benar-benar maju. Gadis itu benar-benar mendorongnya.

“Whoa!” Teriak mereka bersamaan. Gadis itu kembali ke dalam mobil dan tertawa puas.

“Haaa, lihat! Aku juga bisa!” kata gadis itu, menepuk keras punggung si laki-laki.

“Canggih mampus. Gilaaa…”

Mereka tertawa keras bersama.


“I’ve been abused in my heart”
~Ray Charles- Sweet Memories

“Aku diberhentiin kerja.”

Tiba-tiba ditengah kemacetan menuju mall untuk menonton, gadis itu mulai bercerita. Mereka bertatapan lagi.

“Separah itukah?” tanya si laki-laki.

“Penyebabnya, istri atasanku di tempat magang ngira kalau aku selingkuhan suaminya.” Si gadis tersenyum getir.

Si laki-laki tak mengatakan apapun.

Si gadis tertawa dipaksakan, “ Istrinya yang punya perusahaan, jadi aku diberhentiin,” ceritanya lagi. “Akhirnya orang-orang sekantor tahu. Mereka menatapku jijik. Mungkin karena aku junior, aku dikerjain. Haha.”

Laki-laki itu menyandarkan kepalanya di kaca mobil. Matanya meredup. “Gimana kalau kita ngobrolin apa hobi kamu? Kamu seneng ngapain, selain duduk di trotoar godain cowok lewat?”

Ia menggeleng-geleng dan berusaha menjawab pertanyaan itu. “Hmm…aku suka tidur, gambar, nyanyi-nyanyi kenceng di depan komputer.”

“Hmm…menarik.”

“Kalau kamu?” Ia menoleh pada laki-laki itu.

Laki-laki berambut agak gondrong itu menerawang. “Hmm…kalau aku, aku seneng nemenin orang yang aku sayang. Mau ngapain pun,” jawab laki-laki itu. Nada bicaranya menjadi lembut. Gadis itu tersenyum. “Kalau Ibu, dia seneng nonton infotainment, jadi aku lumayan sering nonton infotainment nemenin dia. Aneh sih, hahaha, tapi aku sayang banget sama ibu, jadi aku temenin aja. Adikku suka masak. Aku seneng liat dia masak atau gangguin dia di dapur kalau lagi masak. Sahabat aku seneng kebut-kebutan, aku temenin dia kalau dia balap liar malem-mmalem. Lumayanlah bisa nongkrong juga. Tapi, untuk diri sendiri, aku suka hmm, main gitar dan main bola. Haha, standar aja.”

Gadis itu merasa hatinya terasa hangat lagi.

“Kalau aku jadi temen kamu, terus aku minta kamu duduk di pinggir trotoar pas hujan, mau nggak?” tanya si gadis iseng, terkikik.

Laki-laki itu menggaruk kepalanya. “Wah, susah. Hmm…nggak ah,hahaha!” Ia ikut tergelak. “Eh, nyampe.” Gerbang mall memang sudah terlihat, dan mobil sedan itu pun masuk ke sana.
Sesampainya di parkiran mall, mereka turun sambil tetap bernyanyi-nyanyi pelan. Celana si gadis masih basah, tapi tampaknya tak ada satu pun yang memedulikannya.

“Eh, gimana kalau kita jalannya jauhan? Jadi kayak bener-bener orang yang nggak kenal gitu, dan ternyata kebetulan nonton film yang sama dan sama-sama sendiri,” kata si gadis.

“Hahaha boleh. Kamu naik lift ya, aku naik escalator. Terus nanti ceritanya aku papas an sama kamu di tempat karcis,” tambah si laki-laki.

“Sip!”

Mereka pun berjalan menjauh dan sama-sama terkikik. Laki-laki itu, dengan kaos puti dan celana jeans hitamnya ke arah eskalator. Si gadis berjalan menuju arah lift. Smbil menunggu lift, si gadis mendongak dan menatap sosok si laki-laki lagi. Ganteng. Charming. Pintar. Penyayang. Ia suka. Padahal mereka orang asing, tapi entahlah. Ia suka. Chemistry mereka sangat terasa, dan ia mulai mempertanyakan, apa memang dia dan laki-laki itu sudah ditakdirkan bertemu di hari ini, di jalan itu.

Ia sedikit tercekat ketika laki-laki itu tampak bertemu seorang laki-laki berkemeja hitam di lantai dua. Terlihat si laki-laki tak senang bertemu dengan laki-laki berkemeja hitam. Ia benar-benar penasaran apa yang tengah sibicarakan dua laki-laki itu, tapi lift terbuka, dan ia pun masuk ke dalamnya.




Gadi itu sampai duluan di meja karcis. Beberapa belas menit kemudian, laki-laki itu datang dan wajahnya masih tampak tidak terlalu senang. Gadis itu membuat kontak mata dengan laki-laki itu untuk bilang, “Ayo kita pura-pura beli bareng sekarang!”. Dan tampaknya laki-laki itu mengerti.

“Mbak, saya mau beli karcis buat film… Uh, Man of Steel,” kata si gadis. “Sendiri.”

Sesuai rencana, si laki-laki menyela, “Oh, mbak mau nonton Man of Steel juga? Sendiri? Bareng saya aja. Saya juga mau nonton itu,” kata si laki-laki dengan kemampuan akting yang diharapkan memenuhi standar Oscar.

Si gadis tidak kalah berakting kaget, dan akhirnya dengan sok bingung bilang, “Oh ya sudah Mbak, berarti saya beli dua karcis untuk Man of Steel,” katanya. Mbak itu menatapi mereka berdua, memberikan karcis, dan menatap bingung kedua orang yang melangkah pergi dari tempat membeli karcis itu.

15 meter dari meja karcis, tawa mereka meledak.
“LO HARUS LIAT MUKA SI MBAKNYA BARUSAAAN…”
Dua jam menonton (dan si gadis terkejut ternyata si laki-laki malah tidur di sebelahnya), dan akhirnya lampu dihidupkan dan layar ditutup, mereka pulang.

Pukul 10 malam mereka meluncur dari parkiran mall. Masing-masing terdiam. Si gadis berusaha mencairkan suasana, tapi si laki-laki tak banyak merespon.

Dua puluh menit kemudian, ternyata si laki-laki menurunkannya di jalan itu lagi. Ya, si gadis menyadari, perjalanan yang dimulai di jalan itu, berakhir di jalan itu juga. Perjalanannya dengan si orang asing ini berakhir. Ia tersenyum kecil mengenangnya.

Mobil berhenti dan si gadis belum menggerakkan sama sekali kakinya untuk turun.

“Kenapa?” tanya laki-laki itu akhirnya.

Gadis itu mendongak dan tertawa tertahan. Apa laki-laki itu tidak mengerti? Dia menunggu. Menunggu laki-laki itu meminta nomor teleponnya atau sekedar akun twitternya.

Tapi laki-laki itu hanya memandanginya bingung.

Benar-benar tidak sensitif. Gadis berambut sebahu itu mnarik napas. “Hmm… Makasih ya hari ini. Aku merasa enakan,” katanya. Laki-laki itu mengangguk. “Kita…bisa ketemu lagi kapan-kapan?” tanyanya. Bukan pertanyaan tidak beralasan ‘kan? Laki-laki it uterus menggodanya sepanjang perjalanan.

Si laki-laki menarik napas. Menunduk Si gadis mulai merasa tidak enak.

“Kayaknya nggak bisa,” kata laki-laki.

Gadis itu terhenyak. “Kenapa?”

“Ya, kayaknya kita gini aja. Saling nggak kenal nama, tempat tinggal, tempat kuliah, apa pun. Tetep jadi orang asing yang gak bisa sapaan di jalan.”

Gadis itu mengernyit. Hatinya merasa teriris. Perih. Jelasin kenapa lah.”

Laki-laki itu memalingkan wajah, menghindari tatapan si gadis. “Aku…sebenarnya bohong sama kamu. Aku udah punya pacar,” bisiknya.

“Hah?”

Laki-laki itu menggeleng frustasi. “Aku bingung harus gimana. Pacarku ternyata selingkuh sama temenku baik aku sendiri. Hahaha. Dan ya, aku ketemu kamu, dan kamu asik.”

Si gadis tersenyum lemah.

“Yah…ternyata aku gak bisa lari dari cewekku. Aku tetep mikirin dia. Aku tadi ketemu cewekku itu, dia minta maaf, dan…” Laki-laki itu menutup matanya. “Aku lihat, kamu kayaknya tertarik sama aku. Aku nggak mau nyakitin kamu karena itu. Jadi, mengingat kita belum tahu nama masing-masing, dan di mana kita tinggal, dan lain-lain… Mari kita tetep jadi orang asing aja. Saling menjalani hidup masing-masing.

Gadis itu tertahan di antara ingin menangis dan tertawa. Ia ingin berteriak dan memaki laki-alki itu. Terus kenapa kamu harus ngegoda aku seharian? Sialan.Tangannya gemetar ingin menampar pipi laki-laki itu.

Tapi akhirnya dengan sekuat tenaga ia berucap, “Oke. Oke kalau gitu.,” ujarnya. Lalu ia turun dari mobil, membanting pintu, dan berjalan cepat, ketika laki-laki itu berbicara lagi.

“Aku cocok sama kamu. Jelas banget kita saling suka. Di waktu lain, di keadaan lain, aku mungkin bisa bener-bener jatuh cinta sampai gila sama kamu. Tapi cewek aku juga nggak aksn suka itu. Yang penting…kita seneng-seneng hari ini, dan semoga jadi memori yang lumayan bisa diingat ya,” katanya setengah berteriak.

***

Beberapa hari setelah itu, hujan turun lagi. Gadis itu duduk lagi di tempat yang sama. Menunggu mobil sedan dengan lagu The Smiths dan Ray Charles menggema di mobilnya. Dia berdoa, meyakini yang dia cintai akan kembali. Bahwa kemarin itu bukan ilusi.

Mobil itu tak pernah lewat.
Tapi si gadis tetap duduk di sana setiap hari Sabtu.
Duduk. Sendiri, atau berdua, atau bersama siapapun yang ingin menemaninya.

***

Dan, pada suatu hari, di sebuah jalan.
Ia berjalan sendiri, menyenandungkan lagu “I can’t stop loving you” nya Ray Charles, di tengah sore yang menyengat, ketika sebuah mobil berhenti tepat disampingnya. Kaca mobil itu perlahan terbuka.

Orang di dalam tersenyum.
Gadis itu tersenyum.
Ia masuk.


***

You Might Also Like

0 komentar

Individual campaign.DO NOT COPY some or all content without permission from @goaweygo. Powered by Blogger.

Subscribe