Lagi-lagi..

Lagi-lagi masalah hati.
Lagi-lagi masalah perasaan. Ya, perasaan memang selalu dipermainkan, atau sebaliknya, mempermainkan.
Ah, begitulah perasaan, tidak ada ukuran pasti layaknya waktu yang satu jam hanya 60 menit.

Entah hari keberapa ini. Mencoba memperbaiki yang dirasakan, mencoba memperbaiki yang merasakanya, hati. Iya, mencoba memperbaiki hati. Mencoba menutupi, tetapi hanya efektif sementara, sakitnya ternyata tidak bisa ditangani painkiller. Tak ingin siapapun tahu, tetapi malah sebaliknya. Ingin mengabarkan bahwa ini loh, aku, agak tak baik-baik saja. Ah, memang, salah besar. Yasudah, terlanjur.

Tak pernah berfikir akan seperti ini loh. Akan sehebat ini, cara perbaikannya. Tapi, ya, ini tanggungjawab aku sendiri, karena aku juga mau memulainya. Hasil belajar, setiap hari, menguatkan apa yang disebut perasaan, karena satu alasan saja, yakin. 
Yakin, kalau kemarin itu terbaik segala-galanya.

Sejauh ini, memang, ya, terbaik, itu yang aku rasakan.

Tapi, aku masih tak tahu harus memulai dari mana untuk menyudahi pelajaran setiap hari ini. 
Sulit, pasti sulit. 
Sama seperti menulisi di sebuah buku yang hampir penuh, tetapi kau dipaksa untuk menghapusnya sebersih saat buku itu belum dipakai, kalau bisa. Pasti sisa-sisa tulisan tidak akan bisa terhapus secara bersih, akan ada tulisan-tulisan yang tertinggal, meski hanya bayangan tulisan. Intinya, akan berbekas.
Apa ternyata aku tidak menuliskannya? tapi mengucapkannya terus dalam hati, setiap hari, seperti bertasbih kepada Tuhan? ah, mudahnya, seperti, kau menyanyikan sebuah lagu, dan lagu itu akan terus mengiang sampai, bangun tidur pun bukannya berdoa, kau malah bernyanyi. Sehebat itu kah hingga dirasakan di alam bawah sadar? ah, tentu ada yang lebih tahu hal seperti ini dibanding aku.

Atau dua-duanya? Dituliskan dan dirapalkan dalam hati? Aku pun tak begitu ingat, yang aku tahu, ini pasti lebih sulit untuk menghapusnya.

Masih. Tak tahu harus kapan memulai menghapus tulisan di bukunya. Entah karena malas, entah karena, berharap, suatu saat, aku memang akan belajar lagi dari , melanjutkan, sesegera mungkin di buku yang sama, buku terbaik.
Hanya berharap, belum tentu iya. Siapa tahu.
Ya, terbaik menurutku, belum tentu aku terbaik untuknya.
Ya, tidak tahu titik temunya dimana.

Perasaan,
Lagi-lagi...

(source: tumblr.com)

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible