Skizofrenia (Djibran, 2008/2013)

1:26 PM

some, from Djibran, 978-979-780-622-4 (2013)

Sebagai manusia, kita diberi akal yang memungkinkan kita bertanya apapun jika ingin tahu sesuatu yang membuat kita penasaran, bahkan hal yang, katanya, tidak boleh dipertanyakan.
Ah, tapi, aku bukan mau membahas hal yang tidak boleh dipertanyakan itu, mungkin iya, mungkin.

Pernah tidak kita berpikir orang yang biasa kita sebut gila, di jalanan, kumal, bahkan telanjang, tak seperti kita, bagaimana penilaian orang itu terhadap kita? Pernah ga berpikir, gimana kalau kita ternyata yang gila, mereka waras dalam persepsi mereka?

Jadi yang gila itu sebenarnya dia apa kita?

Kenapa hidup selalu dibatasi sesuatu yang tegas, keliatan, nyata, dan terdistorsi? Hitam-putih, positif-negatif, panas-dingin, sakral-profan, totem-tabu, dan blahblahblah. Apakah kalo kita memilih salah satu diantara dua itu benar? Kalau memilih untuk berada diantara salah satunya, salah? Menjadi abu-abu sehingga tahu apa itu batasan antara putih dan hitam. Netral sehingga bisa jelas menafsirkan antara baik dan buruk. Berada diantara gaya tarik-menarik antara positif dan negatif agar tahu sebesar apa kekuatan keduanya. Tak gila tak waras, tapi keduanya.

Skizofrenia, teman, itu loh, situasi saat kita memiliki dualitas kesadaran, dualitas persepsi, dualitas keyakinan.
ketika kita berpijak di titik hitam tetapi sebenarnya kesadaran kita pulih, di situlah, kita mengidap skizofrenia. Kita beribadah jingkir balik bersujud kepada Tuhan mengucurkan air mata dengan sikap yang (seolah-olah) putih, di waktu yang lain kita melakukan tindakan-tindakan yang sangat "hitam".
Beragama, tetapi jahat; tersenyum, tetapi membunuh.

Orang yang mengidap skizofrenia tak bisa membedakan antara khayal dan nyata.

Tiap pagi, aku membaca, mendengar, dan menonton berita-berita kriminal, kejam, tidak berperikemanusiaan, menurut aku yang waras, mungkin.
Di koran pagi ini, hari ini. Aku membaca berita tentang seorang anak yang menyembelih leher bapaknya sendiri! Kepala sang bapak yang telah terpisah dari tubuhnya, ia memasukkan ke dalam sebuah ember dan menentengnya berkeliling-keliling kampung. Dan, orang-orang (aku, kau, kita) merasakan sesuatu yang di luar logika manusia menyeruak memasuki pikiran kita. Lalu, untuk melengkapi keheranan dan kengerian itu, seorang pakar, masih dalam koran itu, memvonis pemuda itu mengidap sakit jiwa. Gila.
Masih berita yang sama. Kali ini, aku menyaksikannya di televisi. Aku melihat pemuda itu, wajahnya, wujudnya, pemuda itu, wajahnya, wujudnya. Pemuda yang telah menyembelih bapaknya sendiri dengan sebilah golok tajam dan memasukkan kepala bapaknya yang berlumur darah ke dalam sebuah ember, lantas membawanya berkeliling kampung. Bapak yang telah mewariskan saham keluarga untuknya, telah ia curi sebagian sisa hidupnya dengan cara yang keji.
Aku melihat mata pemuda itu. Sepi dan kosong. Tak ada penyesalan di sana. Tak ada dendam. Tak ada kepuasan. Aku melihat matanya sepi dan kosong, tidak mengabarkan apa-apa, tidak menggambarkan apa-apa. Tak ada kesedihan. Pemuda itu duduk tenang sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan polisi dan wartawan. 
Namun, kita lantas merasa tenang, setelah benar-benar merasa yakin bahwa, untunglah ternyata dia gila.
Kita mendistorsi ruang normal dan tidak dengan cara yang gila.

Ada yang merasa normal dengan cara pulang-pergi diskotik mabuk-mabukan sementara menyebutkan mereka yang tidak pernah merasakan remangnya lampu diskotik sebagai orang aneh. Ada yang merasa normal jika dalam sebuah film ada adegan porno/telanjang, sementara film-film "bersih" dianggap tak bermutu dan membosankan. Ada merasa normal dengan tidak telanjang dan kumal di jalan, sementara mereka telanjang dan kumal dihadapan Tuhan.

Terus saja merasa normal sedangkan kita juga tidak tahu hakikat normal dan ketidaknormalan itu.

Normal, padahal mabok.
Normal, padahal telanjang.
Normal, padahal korupsi.
Normal, padahal membunuh.

Dengan kenormalan kita, kita menertawakan orang yang berada dijalan, kumal, telanjang, padahal sepertinya, kita yang layak ditertawakan. Kita merasa normal dengan tingkah skizofrenik kita. Hidup tanpa sadar secara sepenuhnya karena kesadaran kita hanya memilah-milah hal yang kita senangi saja. Iya, Gila.
Kita menganggap orang yang mengutang di warung hingga ratusan ribu adalah "miskin", sedangkan pemegang kartu kredit platinum edition selalu dianggap orang kaya. Padahal, siapakah yang pengutang kakap?

Kita hidup di dunia penuh keterbalikan. Mungkin, ini saatnya untuk aku dan kalian merubah persepsi dan kesadaran, agar tak selamanya terlarut dalam kegialaan. Iya, Gila.

You Might Also Like

0 komentar

Individual campaign.DO NOT COPY some or all content without permission from @goaweygo. Powered by Blogger.

Subscribe