Ego.is.me

Well, kadang gua jadi termasuk orang yang gak mau berusaha ngusik kenyamanan sendiri buat sesuatu yang ribet atau bahkan ngorbanin sesuatu buat orang lain. Misal nih, zaman gua kuliah, gua nggak mau jadwal nonton gua terganggu jadwal ujian lho. Gak mau beralasan, ah nontonnya ntar aja abis ujian, mau fokus belajar. Big No! Kadang, ya. Karena, kadang malah gua ngorbanin sesuatu buat seseorang. Ya, kadang juga. Ya, ego. Ego, Ego. Setiap manusia pasti punya ego kan? Cuma ya, cara penempatannya aja yang beda-beda. Disebut ego, karena manusia punya akses perasaan dan akal yang beda jalur, beda trayek. Bersebrangan. Akal, selalu berhubungan sama sesuatu yang logis, sementara perasaan urusannya selalu bersebrangan sama si Akal itu tadi. Manusia kadang nolak ego pake nama: 'batu banget sih!' tapi kalau urusannya sama untung-rugi buat diri sendiri, kadang gak mau kalah juga. Ego pribadi dijunjung tinggi dan diklaim sebagai hal yang benar.

Sebenarnya, sekarang gua lagi berurusan sama hal yang belibet. Ribet. Apalagi kalau bukan urusan pendidikan dan cinta-cintaan. Ya, seumuran gua belum kepikiran fluktuasi rekening listrik kan? Ya, karena gua juga belum punya rumah sendiri. Yauda, itu serahkan sama orang tua aja. Well, sebenarnya, gua baru saja lulus. Nunggu dikukuhkan secara officially, ceremonially, sebagai wisudawati dari kampus gua, IPB. Rasanya selesai kuliah itu... luar biasa bahagia! Bahkan, gua lebih fresh, lho. Lebih banyak me-time. Ga terlalu moody. Mungkin waktu kuliah, terkena imbas waktu kuliah dan kegiatan yang--tidur pun, kadang gak nyenyak karena kepikiran kuliah besok. Segitunya banget? Iya! Sebenarnya, gua pengen lanjut lagi kuliah, sangat-sangat ingin lanjut lagi. Tetiba, mimpi gua dari SMA yang pengen gabung ke VOA itu muncul lagi ketika gua udah lulus, gua mantep banget pengen lanjut ke broadcasting or film/television. Tapi, kayaknya, it's just a dream. Bahkan, kuliah di jurusan broadcast aja masi digantung antara yes or no nya. Ribet memang. Memang. Setelah gua pikirkan, akhirnya gua pun memilih alternatif jurusan public relation buat lanjut. Mungkin karena jurusan ini bisa kerja dimanapun--yang bikin gua mikir 'what's wrong with jurusan tipi-tipian?'-- akhirnya gua diperbolehkan buat ngambil jurusan ini sebagai kuliah lanjutan. Tapi, sungguh, masih ribet.

Lama di Bogor dan jarang balik ke rumah bikin gua susaaah banget merelakan diri pergi lagi ke kota lain. Gua bahkan hampir gak kenal keadaan di kota kelahiran gua sendiri. 17 tahun tinggal disini, dan, sumpah, gua emang gak mau move on. Padahal waktu SMP, cita-cita gua tinggal di luar kota, dan kerja as a career women di perusahaan multi-nasional. Tapi udah gede gini, gua malah inget perkataanya si John di film I AM NUMBER FOUR: 'You can go wherever you want, see whatever you want to, but, a place is only good as the people you know in it. I think this is a pretty good place.' Ya, tempat terbaik adalah tempat di mana orang-orang yang kita kenal are around.

Dan, yang kepikiran lagi selain lanjut kuliah, tentu aja kerja. Bukan, bukan karena iri teman-teman gua banyak yang udah kerja begitu lulus. Sama sekali bukan. Selain karena gua nggak mau ntar udah kerja masih diribetin urusan kampus karena belum officially lulus, gua juga masih bingung mau kerja di mana. Bingung terus ya? Iya! Masih labil? Iya. Masalah ego itu tadi. Gua mau kerja, tapi yang nggak mengganggu hobi menggambar dan nonton gua. Kerja yang sesuai jam kantor, dan setidaknya sabtu-minggu libur. Manusiawi kan? Gua bukan robot juga, emang. Ya, gua memang bukan tipe orang yang bakal gila kerja, kayaknya. Orientasinya bukan cuma uang, tapi, setidaknya gua enjoying apa yang gua lakukan, dan sadar. Nggak mau jadi zombie karena kerjaan. Nggak keberatan juga disebut pilih-pilih kerjaan, kan memang, hidup selalu dihadapkan sama pilihan. Gua gak mau ilmu yang gua dapet di kampus secara mahal, akhirnya nggak kepake, karena kerjaan yang gak sesuai. That's it. Tapi, ternyata perkataan nyokap yang bilang: 'mamah maunya kamu lanjut kuliah S1 dulu aja.' Bikin gua bingung lagi. Jadi, ini masalah masih gua diskusikan dengan Allah.

Yang kedua nih, masalah cinta-cintaan. Sounds cheesy, ya? Yah, namanya juga YOUNG-ADULT. Belum lama putus bikin gua masih jetlag. Bindeng deh kalo flu. Gajelas. Jadi, sebenarnya, gua lagi nyusun lagi tatanan ekosistem kayak dulu lagi. Kayak zaman ular belum berkurang, jadi tikus gak merajalela jadi hama. Intinya, lagi mencoba memperbaiki diri. Berusaha buat bikin seneng diri aja. Ribet emang nih ninggalin habitual yang dulu, waktu belum putus. Ribet cara ngilanginnya. Ribet cara ninggalinnya. Sebenarnya gua bukan orang yang kebiasaan sama stuck moment, apalagi sama orang yang bawa bad effects ke guanya. Tapi ini bikin gua kurus. Good effects kan? Mungkin masih susah lupain karena kayak gantung. Gak case clear ampe sekarang. Serius di gua, tapi gak serius di pihak lainnya, ya bikin gua semaput juga. Susah megangnya. Susah mertahaninnya. Capek sendiri. Ya, kan harusnya pacaran itu penggabungan dua karakter yang sama, atau (bisa jadi) berbeda menjadi satu kesatuan. Unity. Bukannya yang satu harus ikut karakter yang satu. Dan, juga intinya saling mempertahankan. Nggak egois. Mungkin gua juga yang bodoh. Cintanya kecepetan disekaligusin, nggak pelan-pelan. Gua memang orang yang susah banget ngelupain kalau udah serius sayangnya, tapi bukan orang yang gak bisa move forward juga. Semua ada waktunya kan. Tapi gua males sama prosesnya. Lama. Ada aja ujiannya. Demi menyenangkan diri, gua gambling perasaan dengan cara hook-up sama seseorang. Asli, gua (lagi) hook-up. Intinya, biar gak inget terus gitu. Bukan orang baru sebenarnya, karena, dulu, dia juga orang yang suka gua dan gua suka juga. Suka doang ya, karena buat embel-embel yang lainnya butuh pemikiran yang matang dan rasa tulus lho ya. Bertemu lagi karena sama-sama 'drunk' (baca: galau), dia dengan gebetannya, dan gua dengan ex, entah kenapa tetiba terlontar aja kata-kata kita berdua yang 'yaudah kita pacaran aja'. Sinting! Gua sempat seneng, tapi efeknya ilang seiring kita berdua mulai sadar. Ya ampun, demi Tuhan, perasaan gua ke dia aja lempeng-lempeng aja, flatline. Dia juga nyari gua ketika emang butuh doang. So, anggaplah nggak ada. Karena gua memang bangun benteng. Dan memang belum boleh ada orang yang ngejebol benteng pertahanan gua. Ya, sekarang sih, memang belum ada.

Ya, mungkin, adanya gua dirumah dikelilingi orang yang gua sayang, bisa cepet ngilangin efek bindengnya.
Semoga.
Ini Ego, lho.

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible