Forgive N (ot to) Forget

8:55 PM

Sebenarnya, mungkin, dari kecil, aku bukan orang pendendam. Mungkin ya. Bahkan teman-temanku selalu bilang: 'jangan terlalu baik sama orang lho'. Dari kecil, aku memang tidak mau cari ribut. Bahkan dengan orang-orang yang jahat kepadaku sekalipun. Eh tapi iya lho, aku tak pernah membalas orang-orang yang jahat terhadapku. Aku lebih memilih menganggap mereka orang asing yang pernah cari ribut.

Ya, aku, seperti remaja pada usiaku, pasti mengalami segala macam hal, terlebih, aku memang suka sekali bertemu orang-orang baru dan make friends. Hal macam backstabbing cukup sering aku temui dimanapun. Pada awal hal itu menyapaku, seungguh demi Tuhan, sulit sekali kuterima. Melihat orang-orang baik di hadapanmu, tetapi membicarakanmu yang tidak-tidak kepada orang lain. Menjijikan. Itu kejam lho, menurutku.

Aku ingat, beberapa tahun lalu, aku berkenalan dengan orang asing yang tidak butuh waktu lama untuk mengakuinya sebagai temanku. Gadis dengan perawakan ceking dan lebih pendek, sekitar sepuluh sentimeter dibawahku. Aku tahu baik dan buruknya dia, lebih dari yang orang-orang tahu. Tapi, aku ingat, aku tak pernah dengan lancang mengumumkan keburukannya kepada siapapun. Dia temanku. Tentu saja aku menerima dia apa adanya. Dia biasa menceritakan hal-hal buruk tentang teman-temannya yang lain. Aku hanya menanggapinya dengan 'Hah! Masa sih?' atau 'Ih, parah banget!' atau 'Oh ya?' Kadang aku percaya. Bodohnya, kebanyakan percaya, karena aku sendiri tidak mengenal orang-orang yang dibicarakannya dengan baik. Hingga suatu hari, orang-orang yang selalu dia ceritakan memberitahuku, bahwa, dia, orang asing yang sudah aku anggap teman baik itu, membicarakan hal-hal tidak baik tentangku. Menjadikanku lelucon. Tidak, dia tidak membicarakan sesuatu yang
parah tentangku. Memang aku separah apa? Aku kan bukan a wild, wild girl. Dia hanya membicarakan habitual ku yang: cerewet, drama queen, dan hal-hal sepele lainnya.

Bukan, bukan hal itu yang jadi masalahnya. That's true, so, that's not a big deal.
Hal yang sangat membuatku sakit, karena dia temanku, dengan entengnya membicarakanku. Maksudku, 'hey, aku temanmu. Bukannya harusnya kau menerimaku dengan kecerewetanku dan hal-hal sepele itu?'

Aku ingat, mulai hari itu juga aku menjauhinya. Menjaga jarak. Menolak diajak kemanapun olehnya. Aku tidak mau jadi temannya lagi. Dia menjadi orang asing bagiku, sejak hari itu, hingga detik ini.
Mungkin dia bertanya-tanya kenapa aku menjauhinya. Pun orang-orang yang biasa melihat kami berdua. Mereka merasakan keretakan hubungan (yang katanya) teman itu. Tapi siapa peduli? Aku? Tidak sama sekali.

Itu pertama kalinya aku merasakan sakit hati dan tak mau memaafkan. Tidak, aku tidak dendam. Aku tidak membalasnya, karena yang aku tahu, dia juga dikhianati teman-temannya. Cukup tersenyum saja, aku pun sudah puas.

Jahat kah? Belum tentu.

Kukira itu akan menjadi hal pertama dan terakhir yang dapat membuatku pilu tentang lika-liku make friends. Ternyata tidak.

Tidak, kali ini mereka yang kuanggap teman tidak membicarakan hal-hal sepele lagi. Mereka hanya membohongiku. Menyimpan rahasia yang sebenarnya penting aku ketahui, karena semua rahasia itu mau tidak mau akan menghilir di aku. Tapi, mereka memilih untuk menyimpannya rapat dan membiarkanku tidak mengetahuinya. Dibohongi seperti itu rasanya sungguh sangat pilu. Bahkan aku sempat diam dan menahan tangis.

Iya. Mereka bersekongkol untuk membohongiku. Menyebalkan, sungguh. Mereka meminta maaf. Ya, MINTA MAAF. Tapi, rasanya masih terlalu mudah jika hanya memaafkan.

Dan, kali ini, aku cukup tega untuk membalasnya.

Aku cukup tega dengan membicarakan hal-hal buruk tentangnya kepada orang-orang disekitar. Cukup dengan itu, maka semuanya terlihat meyakinkan. Aku bahkan membuat mereka menangis. Entah apa yang ada dipikirku saaat itu. Padahal, tak pernah ada rencana untuk membalas, tetapi semuanya seperti sudah jalannya, mengalir begitu saja.

Tapi, aku melihatnya seperti itu. Aku melihat diriku seperti orang asing yang itu, yang dulu membicarakanku kepada teman-temannya.

Aku semenjijikan itu? Tidak. Aku membela diri.

Aku tetap lebih baik. Setidaknya aku tidak pura-pura baik di depan dan membicarakan dibelakang. Aku tidak fake. Tidak menjadikan dua orang ini teman lagi. Senyumku selalu tertahan dan tidak tulus jika mereka tersenyum kepadaku. Demi Tuhan, aku lebih memilih menghindar. Orang bilang, tatapanku kepada mereka selalu disertai kebencian. Nyalang dan mengintimidasi. Ya, aku benci mereka. Wajar kan? Yang penting, aku tidak sok baik di depan mereka. Ya ampun, malah mereka selalu berakting sok polos dengan mengajakku mengobrol, seolah aku hilang ingatan tentang apa yang mereka perbuat kepadaku.

Jijik.

Well, kejadian-kejadian itu seolah memudar sekarang. Mungkin karena banyak hal yang kupelajari, dan aku tersadar bahwa 'hey, hidupmu bahkan baru saja menjejak garis start, masa hal-hal sepele seperti itu kau tidak maafkan?'

Semakin umurku bertambah, ternyata hal-hal seperti itu banyak aku temukan. Semua orang membicarakan keburukanmu, kawan--kecuali teman yang memang benar-benar tulus berteman denganmu dan aku punya beberapa. Beberapa orang mengkhianatimu: orang-orang yang kau anggap teman, pacar, oh bahkan your relatives. Aku tidak bohong!

Menjijikan memang, Muak. Tapi, sudah saatnya berbesar hati. Mungkin sulit. Sangat sulit. Butuh beberapa tahun untuk aku merenungkan hal ini. Maaf merupakan kata yang luar biasa indah, sungguh. Butuh ketulusan untuk meminta maaf dan memaafkan.

Aku sudah tidak mau membebani diri dengan kebencian dan kemarahan. Berat sekali rasanya, sungguh deh.

Aku sungguh memaafkan mereka yang telah menyakitiku. Pun aku, meminta maaf kepada siapapun yang pernah aku sakiti.

Sungguh kita memang jauh dari sempurna.
Percaya deh!
:)

You Might Also Like

0 komentar

Individual campaign.DO NOT COPY some or all content without permission from @goaweygo. Powered by Blogger.

Subscribe