Jadi Anak Kost

Hell-O readers :D

Aku pernah bilang kan bakalan cerita tentang keadaan di kampus.. Tapi sepertinya cerita tentang kosttales lebih bikin aku semangat '45. Hap hap!!!

Di umur 21 ini, pertama kalinya aku bener-bener jauh beratus-ratus kilometer dengan keluarga. Gak tinggal sama kakak sepupu seperti waktu di Bogor. Di sini, aku benar-benar tinggal sendiri. Apa-apa harus indie (ceilah). Wejangan-wejangan pun dihujankan ke aku dari Oma, Adek, Mamah, Tante-tante, Oom-oom (oom-oom?!!! .____.) , Sepupu-sepupu, dan semua orang yang tau kalau aku bakalan tinggal sendiri di Solo. 

"Hati-hati ya kamu, jaga diri." (standar, hampir semua orang mengingatkan ini)

"Inget sholat. Jangan lupa Al-quran nya dibaca terus, biar pinter." (Mamah)

"Jangan lupa makan teratur, beli buah biar gak sariawan. Solo panas." (Mamah)

"Solo? Gak takut item? Hati-hati awas.' (Sepupu) Untung gak ditambahkan kata 'tambah' di kalimat 'gak takut item?

"Jangan pake celana pendek kemana-mana" (Oma) Oh..Oma, aku kan jilbaban sekarang. Oma mah suka minta dicium :*

dan peringatan terakhir yang paling kuamfret ya emang dari adek sendiri sih ya. Hahaha... "Awas, jangan masukin cowok ke kamar!" (nah lho, uda di bold, di italic pula)  -___- paling menohok dan paling ajaib. Adek gua emang frontal, dan memang kita selalu bicara frontal sefrontal-frontalnya pembicaraan. Tenang aja de, cowok yang masuk kamar, mentok-mentok ya cuma bapak yang jaga kostan yang benerin lampu, atau benerin yang rusak. Benerin hatiku? (teuh geura! Garuk aspal.)

Kalo Apa itu saking kalemnya, sepertinya setuju sama semua peringatan-peringatan yang dihujankan ke aku. As always. Mungkin babeh percaya dan tau anaknya kayak giamana. Ah, cinta :*

Nah, sekarang sudah sebulan lebih beberapa hari, gimana sih kerasanya jadi anak kost?
Belum gak ada kendala yang bikin pengen terjun dari lantai tiga saking frustrasinya sih (yaelah baru sebulan bro!). Nyuci? Elah, dari zaman di Bogor juga gak terlalu mikirin cucian. Heeee.. Tetep sih nyuci sendiri, karena Thank God sudah menciptakan orang yang menciptakan mesin cuci. Ya, karena ada mesin cuci, gua pun nyuci sendiri. Kecuali memang malas tak-ada-waktu-karena-tugas-dan-kuliah-yang-nauzubillah, ya di laundry. Tepujilah yang juga pertama kali punya ide laundry kiloan. Sangat-sangat membantu keuangan mahasiswa seperti aku. Sama pula kejadiannya di Solo. Walaupun kamarnya ada kamar mandinya dan punya balkon sendiri untuk jemur, tetap saja terbatas. Ya, ujung-ujungnya laundry juga. Dan benar kata Oma-ku yang kucintai sangat "Yauda, gak usah mikirin cucian, kuliah aja yang bener." Ahihihi :p Bersyukur juga Solo punya matahari terik (yang kadang-kadang aku sumpah-serapahin) jadi cuciannya kering karena matahari, bukan dipaksa kering (entah dikipasin kayak sate atau dipaksa disetrika) seperti kasus-kasus kalau di Bogor. 

Hal yang kedua.. Makan. Makan merupakan pemborosan. Hahaha.. Coba kalo perut bisa makan angin, atau makan hati ya (tetep!) Sebenarnya bersyukur juga, dengan jumlah uang jajan yang sama, pengeluaran buat makan di sini dan di Bogor berasanya jauh banget. Tapi, tetep aja namanya anak kost ya, kadang makan pagi dirapel sama makan siang (Bayangkan!) Kadang makan jam 11 pagi, atau bahkan makan jam 2 siang. Menyesuaikan jam kuliah. Kalau kuliah jam 5 sore, biasanya jam 10-11 pagi makan dulu. Siangnya kadang makan lagi atau ngga. Kalau kuliah jam 3 sore, makanya kadang jam 2 siang. Hahaha... menyedihkan bukan? Sebenarnya mamah menyarankan punya rice cooker sendiri, jadi tinggal beli lauk-pauknya aja. Tapi setelah dipikir-pikir, ah yang ada nanti aku makan mulu batal dong pengen kurus banget, atau saking males sibuk, gak keburu. Yang dibutuhkan sebenarnya kulkas. Biar bisa numpuk makanan ringan, dan naro minuman dingin. Sumpah, di sini panasnya bikin garuk-garuk tembok, walaupun udah masuk musim hujan. Tapi mikir-mikir lagi, nanti saja lah jika sudah diakui benar-benar jadi mahasiswa sini. (Jadi mahasiswa aja masih digantung, gimana lagi hubungan aku? Garukin aspal)

Apa lagi ya? TRASPORTASI. Duh, uda di bold coba, saking urgent nya. Iyaaa transport disini juga bikin frustrasi soalnya. Untungnya yah, dari kost ke kampus itu lumayan deket. Bisa jalan kaki walaupun males saking panasnya (Kapan coba aku gak males? haha) Kalau mau keliling kampus juga ada fasilitas Bis Kampus. Lumayan lah kalau emang ada keperluan ke fakultas lain (ngecengin cowok misalnya! Hah) gak perlu jalan kaki banget. Itu juga kalau Bis Kampus nya gak harkos nya. Kadang suka PHP (Bis aja ngePHPin coba! (._.)//|| ) Tapi paling sering ya ke kampus mah jalan kaki aja, walaupun ditengah teriknya matahari Solo yang bikin cape dan geraaaah. Dengan segala daya upaya tampil kece agar menggaet para mahasiswa kece UNS luntur sudah di detik pertama melangkahkan kaki keluar dari kostan. Pasrah. Kadang panasnya bikin pengen marah. Apalagi kalau inget hari-hari di Tasik yang tidur siang pun mesti selimutan, tambah pengen ngamuk. Di sini, selimut cuma dikuyel-kuyel aja, padahal seumur hidup gak bisa tidur tanpa selimutan, mau panas ataupun nggak. -___- Mamah sama Apa cuma menghiburku dengan "Kamu belum terbiasa, nanti juga kalau uda biasa mah gak akan ngerasa panas." Mungkin iya kali ya. Ya kalau pun tidak, harus ikhlas ya. Berdoa semoga tiap tetes keringat itu jadi pahala. Aamiin. :) Tapi kalau mau pergi jalan-jalan atau mau cari sesuatu di pusat kota yang membingungkan dan mesti mutar otak. Antara harus naik taxi atau pake Batik Solo Trans (BST), atau naik bis kota. Kalau mau cepet, otomatis taxi paling ampuh, tapi ma to the hal. MAHAL. Bukan mainan anak kost lah taxi ya, kecuali patungan lima orang.hehe. Naik Batik Solo Trans juga sebenarnya asik, berAC. Tapi shelter nya ada di depan kampus, sedangkan aku kost di belakang kampus. Mesti ke depan kampus dulu. Ya caranya antara nyambung-nyambung. Pake bis kampus, dan di depan kampus pake BST. Tapi satu hal yang paling penting. Kudu sabar. Karena antara 1 BST ke BST yang lain itu jaraknya lama banget. Kebanyakan orang-orang disini seperti yang aku bilang di post yang Solo, Spirit of Java, kebanyakan kemana-mana pake motor. Makanya jangan heran kalau nanya cara sampe ke suatu tempat pake transportasi apa kebanyakan pada bilang gak tahu -__- Yah, taxi memang pilihan paling tepat kalau mau cepet sih, emang. Kalau nggak, minta teman kampus anter, cuma, ya, persoalan lagi adalah, rata-rata mereka gak punya helm dua karena sama-sama ANAK KOST (tepok jidat).

Tapi hal yang paling kerasa adalah benar-benar harus berusaha menghibur diri dengan strategi yang diciptakan sendiri jikalau galau dan teman-temannya ujug-ujug menginvasi hati (Halah!) Kalau dirumah, blend with family cara yang paling pas biar gak galau keterusan. Ngobrol sama Mamah, atau nontonin Apa gardening itu cukup menghibur. Kalau di Bogor, ngobrol sama ponakan, maen PS sama ponakan, nonton tv ampe mata beler pun cukup menghibur. Nah lho disini mah harus bersahabat sama DEDEK (Laptop kesayangan) (dan entah kenapa aku namakan Dedek. Apa aku pedofil suka sama dedek-dedek?!!! .___.) Kalau galau ya bangun pagi setelah semalaman nangis :( nyuci atau ngepel kamar kostan (wedyan kan galau nya nyuci atau ngepel coba!!! Aku pun bingung sama diri aku yang ini.)


Mungkin segitu dulu ya Balada Anak Kost nya, 
geraaaah, pengen guling-guling di lantai dulu.

Salam!

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible