Langit Bubblegum & Hujan Di Pagi Hari

7:25 PM

Setiap manusia yang berjalan di muka bumi ini (mungkin) pasti memiliki waktu-waktu favorit mereka dalam menikmati semesta. Momen-momen dimana memang waktu-waktu itu lah yang membikin diri mereka merasa bahwa andai hidup memang sebegini enaknya. Hidup sebegini nikmatnya. Setidaknya mereka bisa sekejap pergi dari pertanyaan-pertanyaan konyol tentang kehidupan. Menikmati momen...momen apa ya namanya? (Inginnya pake istilah momen autis tapi sepertinya pemakaian ini sudah harus dihilangkan)

Ya setiap manusia pasti punya momen itu. Manusia yang paling tidak waras sekalipun. (memang manusia yang waras yang seperti apa? Kalian merasa waras? Cuma karena melihat orang di jalan tanpa sehelai benangpun dan badannya bau, kalian menanggap mereka tak waras dan kalian waras? Ah..dangkal!)

Akhir-akhir ini, ngomong-ngomong, pemujaan terhadap langit di kala menjelang petang dan di kala menjelang pagi menjadi sangat-sangat nge-trend. Kapan sih mulainya? Mungkin semenjak ada instagram dan orang rame-rame memampangkan foto langit sedang, kalo istilah kerennya sih ‘golden hour’, dari segala penjuru dunia (yang ada penghuni manusianya dan pake instagram, tentunya), dari dataran terendah bumi hingga dataran tertinggi. Luar biasa! Indah? Ih, tentu dong! Siapa yang bakal menyangkal keindahan langit dikala ‘golden hour’? Mereka (after sunrise dan before sunset) selalu jadi favorit setiap orang, mostly.

Dan salah satu manusia yang mainstream itu adalah, ya, saya.

Dari kapan suka? Dari pas hype foto-foto di instagram? Duh, entahlah. Saya ya, bahkan baru tau kalo istilah sunrise dan sunset itu GOLDEN HOUR aja baru-baru ini, beberapa bulan kayaknya, setelah tau dari teman (temen saya itu seneng banget ngomong pake istilah-istilah yang sepertinya bakal bikin orang liat bahwa dia keren). Ah, sebenarnya memang saya gak terlalu suka yang istilah-istilahan. Pokoknya mah itu matahari tenggelam, itu matahari terbit. Udah gitu aja simpelnya.

Source: google.com


Saya, memang senang hal-hal yang berbau langit: Awannya, hujannya, pelanginya, gelapnya, bintangnya, bulannya, mataharinya? Gak suka kalo nyengat. Dari dulu saya bisa betah berlama-lama merhatiin perpindahan dan perubahan bentuk awan sampe kalo masuk ruangan gelap mata rasanya buta saking terlalu banyak kena cahaya. Saya suka merhatiin langit. Tapi saya bukan berarti bisa meramalkan apa yang diceritakan langit. Ya sejak kapan sih alam bisa ditebak? Jangan sok tau!

Golden hour yang saya suka ya si before sunset itu. Saya suka ketika langit yang tadinya biru pucat, dan matahari yang kuning, bulat-bulat seperti dimakan awan, terus byaaar…sepertinya matahari yang bulat itu pecah dan warnanya tumpah jadi jingga, oranye, kuning tua, dan magenta terang. Ah…saya suka dug-dug-ser liatnya.

Bubblegum.

Iya, saya suka nyebut bubblegum setiap saya liat warna langit yang begitu. Rasanya saya bisa nyium wangi bubblegum juga kalo liat langit begitu. Warnanya lembut, manis, tapi juga sedikit asam.

Terus langit berubah. Berubah menjadi magenta tua dan oranye terbakar, sebelum akhirnya langit bener-bener berubah indigo dan akhirnya gelap. Malam. Saya suka sama malam. Menurut saya, malam itu pertanda bahwa manusia udah bisa santai-santai, gak begitu mikirin riuhnya hidup. Malam itu alasan terbesar saya gak mesti terlalu banyak mikir (walaupun kalo malam malah saya kepikiran banyak hal), gak mesti selalu keluar rumah, dan yang penting, gak mesti merasakan panas matahari. Manusia pun gak jadi robot kalo malam hari, dan lebih keliatan aslinya.

Itu momen favorit saya. Salah satunya tepanya sih. Karena setelah ini, saya juga mau bercerita, kalau saya punya salah satu momen lagi, dimana hal ini menurut saya juga hal yang, luar biasa. Sangat luar biasa.

Source: markmagdaleno.tumblr.com

Hujan di pagi hari.

Iya. Hujan di pagi hari sebenarnya lebih saya favorit kan dibandingkan si before sunset, karena jarang aja gitu terjadinya.

Hujan. Yah, ini mungkin juga jadi hype akhir-akhir ini. Banyak manusia menjelma menjadi pecinta hujan. Padahal di negara ini hujan uda sering. Padahal kalo pas ujan pada ngedumel gak bisa maen keluar lah, gak bisa ngedate lah. Dan semua serempak berdoa agar hujan berhenti, barang sebentar doang, biar bisa aman diajalan gak keujanan sampe tempat tujuan. Hehehe

Yah, sama. Saya juga kadang suka ngedumel kalo pas hujan turun posisi saya ada di jalanan. Hujan emang cuma dicintai pas manusia ada di ruangan tertutup tanpa tersentuh barang setetes pun. Hujan cuma dicintai pas gak ada guntur dan kilat yang saya sebaliknya. Saya seneng kalo pas hujan juga ada kilat dan gemuruh guntur. Ada sesuatu yang bikin nyaman ketika saya denger kilat dan gemuruh guntur pas hujan. Saya seneng juga nyium bau nya, ketika hujan pertama kali nyentuh bumi (yang ternyata saya baru tau istilah untuk bau khas itu namanya Petrichor). Cuma ya, doktrin dari ibu saya kalo bau itu berbahaya jika dihirup karena mengandung bakteri, jadi saya gak begitu mencintai baunya, cuma seneng aja, pertanda hujan turun.


Balik lagi ke hujan di pagi hari. The most favorite moment in life. Iya. Saya suka ketika bangun tidur, saya denger suara hujan. Saya senang, ketika matahari tertutup langit warna kelabu Kodak, warna peradaban. Kalau dirumah, saya senang karena warna dari tumbuh-tumbuhan dan pepohonan di halaman yang tersiram hujan menonjolkan warna hijau Fujifilm. 

Hujan di pagi hari, memberikan alasan agar saya bisa berlama-lama diam terbungkuskan selimut. Ah…santai sekali sudah. Siapa yang tidak suka bersantai-santai lama di tempat tidur coba? Jangan bohong! 

Hujan di pagi hari, buat saya memberi kesempatan bahwa manusia, bisa, mungkin agak lebih lama menanggalkan ke-robot-annya.  

You Might Also Like

0 komentar

Individual campaign.DO NOT COPY some or all content without permission from @goaweygo. Powered by Blogger.

Subscribe